sejarah perpolitikan bani umayyah


Bani Umayyah
            Pendiri dan khalifah pertama bani Umayyah adalah Muawiyyah bin Abu Sufyan. Muawiyah adalah seorang ahli pidato ulung dimasa khalifaturrasyidin, dengan keahliannya itu beliau disegani oleh para pemimpin, adsministrator, politikus bahkan masyarakat sipil pada waktu itu. Dinasti bani Umayyah ini berkuasa selama 90 tahun dengan 14 khalifah, di antara khalifah yang terkenal ialah Muawiyah bin Abi Sufyan, Abdul Malik bin Marwan, Walid bin Abdul Malik, Umar in Abdul Aziz, dan Hisyam bin Abdul Malik. Sosok Muawiyah merupakan pemimpin yang lihai dan memiliki kemampuan yang sudah teruji sejak menjadi Gubernur pada masa sahabat. Kebesaran dinasti Ummayyah karena terbukti mampu menguasai wilayah dari Asia Tengah sampai Spanyol dan Prancis. Berhasil membangun system komunikasi, administrasi, institusi-institusi pengadilan dan militer.
            Dalam kajian sejarah Islam, kekuasaan Ummayyah merupakan era perubahan dalam pemerintahan Islam, baik pada era kenabian maupun era kekhalifahaan “Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali) yang semula menekankan sistem musyawarah dalam setiap mengambil keputusan (demokratis) terutama untuk pergantian kepemimpinan. Setelah nabi Muhammad meninggal dan kekuasaan pemerintahan berada di tangan sahabat, praktik suksesi pemerintahan tidak banyak perubahan dengan mengedepankan musyawarah. Setelah kekuasaan Islam jatuh di tangan Muawiyah, dengan pergolakan politik yang cukup menegangkan, maka dalam perjalanan kekuasaannya Muawiyah telah membalikkan realitas politik pemerintahannya ke system monarchi (kerajaan) dimana pergantian penguasa dilakukan secara turun temurun. Meski sistem suksesi kepemimpinan dan kekuasaan sudah berubah, pada masa ini istilah khalifah masih dipakai dalam pemerintahan Muawiyah dan penerusnya.
 Perpindahan dari sistem demokratis ke monarchi pada masa bani Ummayyah ini, pertama kali ditandai dengan peristiwa politik dimana Muawiyah mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia pada anaknya yang bernama Yazid menduduki posisi putra mahkota yang dipersiapkan menduduki jabatan kholifah. Apa yang dilakukan Muawiyah dengan mengangkat putra mahkota merupakan tradisi baru dalam rekam jejak pemerintahan Islam mulai dari masa kenabian hingga masa sahabat. Langkah berani Muawiyah ini pada vase awal memang memuluskan roda kekuasaan dan pembangunan kebudayaan, namun dalam perkembangannya sistem politik ini menuai problem yang berkontribusi kepada masa-masa sulit yang akhirnya menghantarkan pada jaman kehancuran.
Di zaman kepemimpinan dauliah bani umayyah memliki wilayah yang sangat luas, wilayah kekuasaan islam sudah mencapai perbatasan Tiongkok di sebelah timur dan pesisir Atlantik di sebelah barat, termasuk wilayah Spanyol beserta Prancis selatan. Hal ini tiak lepas dari usaha umat islam dalam melakukan ekspansi ke wilayah timur yang mana dapat menguasai Afganistan, Kabul, Konstatinopel, dan India. Sedangkan diwilayah barat yang meliputi Aljazair, Maroko, Andalus, dan nyaris menguasai Prancis. 
Daftar pustaka.
Hamid, A. (2015, mei). Retrieved from http://wwwkompasiana.com
Ummatin, K. (2007). tiga pilar penyangga eksistensi Dinasti Ummayyah. jurnal dakwah, 203-226.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sistem pemerintahan negara swedia.

Food Security (keamanan pangan)

Pengertian ICCPR, CEDAW, CAT