Politik luar negeri bany umayyah


 Politik Luar Negeri
Sistem politik pada masa dinasti ini menggunakan system politik kekuatan, artinya segala pergolakan politik yang timbul diatasi dengan kekuatan militer, sehingga lawan politik yang terus berusaha untuk mengacaukan kekuatan politik dinasti ini selalu digagalkan dengan kekuatan politik militer dan politik diplomasi.
Politik luar negeri Bani Umayyah adalah politik ekspansi yaitu melakukan perluasan daerah kekuasaan ke negara–negara yang belum tunduk pada kerajaan Bani Umayyah. Pada zaman Khalifah ar-Rasyidin wilayah Islam sudah demikian kekuasaan yang sangat luas, tetapi perluasan tersebut belum mencapai tapal batas yang tetap, sebab di sana-sini masih selalu terjadi pertikaian dan kontak-kontak pertempuran di daerah perbatasan. Daerah-daerah yang telah dikuasai oleh Islam masih tetap menjadi sasaran penyerbuan pihak-pihakdi luar Islam, dari belakang garis perebutan tersebut. Bahkan musuh diluar wilayah Islam telah berhasil merampas beberapa wilayah kekuatan Islam ketika terjadi perpecahan-perpecahan dan permberontakan-pemberontakan dalam negeri kaum muslimin. Dalam bidang politik, Bani Umayyah menyusun tata pemerintahan yang sama sekali baru, untuk memenuhi tuntutan perkembangan wilayah dan administrasi kenegaraan yang semakin kompleks.
1.       Perluasan ke Timur (711 M)
a.       Armada Islam dapat menembus daerah Hindustan melalui lautan dan berlabuh di pulau Sailan. Pasukan yang dipimpin oleh panglima perang Muhammad ibn Qasim telah sampai ke daerah Sind dan masuk ke Nepal melalui daratan.
b.         Panglima Qutaibah ibn Muslim telah menyeberangi sungai Dailah untuk memerangi negeri Turki, Farghanah dan terus ke Bukhara. Setelah itu ditaklukkannya Samarkand dan terus masuk ke Kasyhar.
2.       Perluasan ke wilayah Afrika (91 H / 710 M)
Sekitar tahun 60 H umat Islam telah menguasai daerah Afrika yang sekarang disebut Maghribil Aqsha (Maghrib yang jauh). Akan tetapi kemudian agama Islam di sana masih selalu mendapat gangguan dari bangsa Barbar yang didukung oleh Byzantium. Untuk menegakkan agama Islam disana, maka Walid ibn Abdul Malik mengirim pasukan di bawah pimpinan Musa ibn Nushair dan mendapat kemenangan dan kemudian daerah tersebut menjadi aman. Dengan kemenangan itu, Musa ibn Nushair diangkat sebagai gubernur daerah Maghribil Aqsha dan meneruskan perluasan wilayah sampai ke tepi Laut Atlantik (Maroko dan sekitarnya).
3.       Perluasan Wilayah ke Andalusia (92 H / 711 M)
Setelah Musa ibn Nushair menjabat sebagai gubernur, ia minta izin kepada khalifah untuk melakukan perluasan wilayah kekuasaan ke Spanyol. Permohonan itu dikabulkan oleh khalifah Walid ibn Malik. Oleh karena itu, Musa ibn Nushair mengirimkan pasukannya di bawah pimpinan panglima Tharif. Ternyata pasukan itu mendapatkan hasil yang menggembirakan. Untuk itu, Gubernur Musa ibn Nushair mengirimkan pasukannya yang lebih besar lagi. Kali ini pasukan dipercayakan kepada Thariq ibn Ziyad.




Bibliography

ummatin, k. (2012). tiga pilar penyangga eksistensi dinasti bani umayyah. jurnal dakwah, 203-226.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sistem pemerintahan negara swedia.

Food Security (keamanan pangan)

Pengertian ICCPR, CEDAW, CAT