Jaringan Advokasi Transnasional Dalam Politik Internasional
Jaringan
Advokasi Transnasional Dalam Politik Internasional
Jaringan
Advokasi Transnasional merupakan sebuah bentuk organisasi yang memilih
karakeristik pertukaran serta pola komunikasi yang bersifat sukarela, timbal
balik, dan sejajar. Konsep jejaring tersebut dapat berjalan dengan baik karena
menekankan pada hubungan yang bersifat cair dan terbuka diantara aktor-aktor
yang bekerja dalam area isu-isu tertentu. Jaringan Advokasi Network memiliki
keunikan tersendiri karena mereka terorganisasi untuk mempromosikan suatu
perkara, ide-ide, norma-norma, serta sering kali melibatkan individu untuk
untuk turut mengadvokasi perubahan kebijakan.
Advokasi-advokasi yang diperjuangkan
oleh aktor-aktor dalam sebuah Jaringan Advokasi Transnasional adalah berbasis
kepada nilai-nilai tertentu. Oleh karena itu jaringan Advokasi menjadi penting
dalam pembahasan mengenai isu-isu yang berbasis nilai-nilai seperti isu-isu hak
asasi manusia, lingkungan, perempuan, kesehatan,dan lain-lain. Mereka yang
mengadvokasi isu-isu, ide-ide atau nilai-nilai serta norma tertentu tidak
bekerja sendiri-sendiri dan tidak mengenal batasan-batas negara dalam
memperjuangkan apa yang mereka yakini, seperti yang terlah terjadi dalam dalam
beberapa dekade terkahir yang mana kita telah melihat semakin meningkatnya
organisasi-organisasi yang bekerja sama, dan tanpa disadari telah membangun
sebuag gabungan atau membentuk Jejaring Advokasi yang menjadi semacam jembatan
yang melampaui batas-batas negara untuk melakukan perubahan sosial.
Adapun aktor-aktor besar dalam
sebuah Jaringan Advokasi diantaranya adalah:
·
Organisasi-organisasi
Riset dan Advokasi Non Governmental Internasional dan Domestik
·
Pergerakan
Sosial Lokal
·
Yayasan
·
Media
·
Gereja,
Serikat perdagangan, Organisasi, Konsumen dan Intelektual
·
Bagian
dari Intergovernmental Organization
·
Bagian
dari cabang-cabang lembaga eksekutif atau parlemen dari suatu pemerintahan
Namun
tidak semua aktor tersebut ada dalam sebuah Jaringan Advokasi Transnasional.
NGO merupakan aktor internasional maupun domestik yang mana memainkan peranan
sentra didalam Jaringan Advokasi. Hal ini biasanya diperankan oleh NGO yang
mana seringkali berperan sebagai inisiator aksi-aksi dan menekan aktor-aktor
lain yang lebih powerful. NGO memperkenalkan ide-ide baru, memberikan
informasi, dan melakukan lobi-lobi yang bertujuan untuk mengubah suatu kebijakan.
Jaringan Advokasi Transnasional
tidak mengendalikan kekuatan dalam isu tradisional yang mana sering menggunakan
fisik (militer) atau kekuatan ekonomi. Karena mereka tidak memiliki kapasitas
tersebut. Dan mereka merupakan kelemahan dari sisi internasional. Namun dalam
kenyataannya kelompok-kelompok seperti mereka yang memiliki pengaruh yang
semakin meningkat dari waktu kewaktu. Mereka memang tidak serta masuk kedalam
arena politik internasional namun mereka mencari cara agar isu yang mereka usung
dapat menarik perhatian perhatian untuk dibahas oleh aktor-aktor tradisional.
Sarana utama mereka adalah informasi yang diproduksi secara cepat, disusun
secara akurat, serta secara efektif.
Ketika salah satu aktor di dalam
suatu jaringan memiliki sebuah visi dengan melakukan strategi politik untuk
menghadapi suatu permasalahan tertentu , maka permasalahan yang diajukan
tersebut berpotensi untuk mengundang aksi di dalam jaringan yang ada. Hal ini
tampak ketika sebuah NGO melakukan advokasi terhadap negara tertentu dan mereka
mendapatkan rintangan dari pemerintah negara yang bersangkutan. Bukanlah suatu
kebetulan apabila banyak NGO serta jejaring advokasi yang ada selalu menyatakan
bahwa mereka mengklaim dan memperjuangkan hak-hak tertentu. Pemerinta merupakan
bukan hanya penjamin utama terhadap suatu hak, tetapi juga merupakan pelanggar
utama atas hak-hak tersebut. Apabila suatu pemerintah enggan untuk mengakui
tentang hak tersebut, kelompok-kelompok NGO akan menjadikan rintangan untuk
masuk kedalam arena politik domestik negara yang bersangkutan. Untuk itulah
mereka mengaktifkan koneksi internasional untuk mengekspresikan persoalan yang
tengah dihadapi. Untuk dapat memahami lebih jelas mengenai pola hubungan antar
aktor dalam sebuah Jaringan Advokasi Transnasional. Ketika saluran antara suatu
negara dengan aktor domestik seperti NGO lokal terhalangi, maka muncul suatu
pola bumerang yang menunjukan karakteristik jejaring transnasional. NGO lokal
akan mencari aliansi internasional untuk mendapatkan dukungan seta semakin
menambah tekanan dari luar terhadap negara yang bersangkutan. tekanan dari luar
tersebut bisa dari negara lain yang telah melaksanakan apa yang menjadi
tuntutan dari NGO, serta bisa juga dari organisasi ketiga seperti
intergovermental organization. Dengan demikian, tekanan yang dihasilkan oleh
pola hubungan semaca itu akan semakin mendapatkan perhatian dari pemerintah
neagra yang sebelumnya. Jejaring Transnasional telah memperkuat tuntutan dari
kelompok-kelompok lokal, membuka arena terbuka terhadap isu yang diusung, dan
pada akhirnya membawa tuntutan tersebut kembali ke tingkat domestik.
Untuk memahami bahwa sebuah norma
atau nilai-nilai yang diusung oleh non-state actor dapat memiliki pengaruh
terhadap dinamika perubahan dalam kebijakan maupun politik internasional, norm
emergence merupakan sebuah kerangka dasar untuk melihat siapakah yang
mencetuskan sebuah norma serta upaya-upaya yang dilakukan oleh aktor tersebut
agar norma yang diyakininya dapat tersebar. Sebuah norma tidak muncul secara tiba-tiba,
namun ia dibangun secara aktif oleh agen-agen yang memiliki gagasan kuat
mengenai prilaku yang menurutnya pantas di dalam komunitas mereka. Proses
pemunculan norma tersebut tidak terlepas dari norm enterpreneurs serta
organizational platforms untuk mencapai titik puncaknya. Norms enterpreneurs
memiliki peranan yang penting dalam proses kemunculan sebuah norm. Mereka
meyerukan perhatian terhadap sebuah isu tertentu bahkan membuat isu sendiri
dengan cara menyebutkan, menginterpretasikan, serta mendramatisasi isu-isu
tersebut.
Peran sentral
informasi dalam isu-isu ini membantu menjelaskan dorongan untuk menciptakan
jaringan. Informasi di bidang-bidang ini sangat penting. Aktor-aktor
nonpemerintah bergantung pada akses mereka terhadap informasi untuk membantu
menjadikan mereka pemain yang sah. Menghubungi kelompok yang berpikiran sama di
bome dan di luar negeri memberikan akses ke informasi yang diperlukan untuk
pekerjaan mereka memperluas legitimasi mereka, dan membantu memobilisasi
informasi seputar target kebijakan tertentu Sebagian besar organisasi
nonpemerintah tidak dapat membantu orang-orang staf dalam berbagai pengadilan.
. Di Amerika Serikat, kelompok hak asasi manusia mendapat dukungan dengan
memberikan informasi kepada pembuat kebijakan yang meyakinkan mereka untuk
memotong bantuan militer dan ekonomi. Untuk membuat masalah bisa
dinegosiasikan, NCO pertama harus menaikkan profilnya atau menggunakan
informasi dan politik simbolis. Kemudian anggota jaringan yang lebih kuat harus
menghubungkan kerja sama dengan sesuatu yang bernilai: uang, perdagangan. atau
prestise. Demikian pula, dalam kampanye bank pembangunan multilateral
lingkungan, keterkaitan perlindungan lingkungan dengan akses terhadap pinjaman
sangat kuat Meskipun pengaruh NCO sering bergantung pada penguasaan sekutu yang
kuat, kredibilitas mereka masih bergantung pada kemampuan mereka untuk
memobilisasi anggotanya sendiri dan mempengaruhi opini public. contoh terbaik
dari politik pertanggungjawaban jaringan adalah kemampuan dari jaringan hak
asasi manusia untuk menggunakan ketentuan hak asasi manusia dari Kesepakatan
Helsinki 1975 untuk menekan Uni Soviet dan pemerintah Eropa Timur untuk
perubahan. Kesepakatan Helsinki membantu menghidupkan kembali movemett hak
asasi manusia di Uni Soviet melahirkan organisasi baru seperti Grup Helsinki
Helsinki dan Komite Tontonan Helsinki di Amerika Serikat, dan membantu
melindungi aktivis dari penindasan Jaringan hak asasi manusia merujuk pada
kewajiban Moskow berdasarkan Akta Akhir Helsinki dan disandingkan ini dengan
contoh pelanggaran.
Komentar
Posting Komentar