Islamophobhia: Diskriminasi Muslim Swiss
Islamophobhia: Diskriminasi Muslim
Swiss
Abstrak
Kaum
muslim sebagai dari golongan minoritas di Swiss berpotensi mendapatkan
perlakuan diskriminasi yang mana hal ini perlu mendapat sorotan karena negara
ini pada dasarnya memberi penghormatan dan penghargaan atas ham dan memiliki
aturan hukum serta perlindungan yang tegas perihal diskriminasi. Meskipun
hubungan antara masyarakat asli Swiss dengan para masyarakat muslim khususnya
pedagang-pedagang muslim yang berlayar ke seluruh pelosok dunia bahkan sebelum
munculnya konsep negara bangsa. Islamophobia di negara ini semakin terlihat
pasca peristiwa pengeboman gedung World Trade Center (WTC) di tahun 2001.
Insiden yang mengatasnamakan islam ini meningkatkan kekerasan baik secara fisik
maupun verbal kepada masyarakat muslim.
Kata
kunci: Diskriminasi, Islamophobia, Swiss, Muslim.
Pendahuluan
Islamophobia
merupakan perasaan takut yang berlebihan terhadap kaum Muslim. Gejala yang
demikian ini sudah muncul di Eropa dalam jangka waktu yang cukup lama,
kedatangan imigran muslim ke ranah Eropa pasca perang dunia II menambah
keragaman etnik budaya dan agama di benua Eropa. Namun kesulitan kaum muslim
dalam berintegrasi ke dalam nilai dan budaya Eropa, serta buruknya pandangan
publik setelahterjadinya teror yang mengatasnamakan Islam menimbulkan adanya
konflik dan perbedaan pandangan antara umat muslim Eropa, yang merupakan bagian
dari suatu kelompok minoritas, dengan masyarakat Eropa secara keseluruhan. Hal
ini lambat laun menyebabkan timbulnya perlakuan berbeda bagi kaum muslim yang
secara jelas terlihat dalam bidang pekerjaan dan pendidikan yang keduanya
tekait dengan kesulitan dalam melaksanakan ibadah dan ajaran Islam sebagaimana
penggunaan busana dan simbol keagamaan.
Meskipun kontak antara masyarakat Eropa dengan
peradaban Islam sudah terjadi bahkan sebelum munculnya konsep negara bangsa,
namun situasi tersebut tidak mampu mencegah timbulnya perlakuan yang berbeda
kepada imigran Muslim di berbagai sektor. Islamophobia ini semakin terlihat
nyata pasca peristiwa pengeboman Gedung World Trade Center di tahun
2001. Insiden radikal yang mengatasnamakan Islam ini meningkatkan kekerasan
baik secara fisik maupun verbal terhadap orang-orang Muslim. Uni Eropa sebagai
sebuah organisasi regional, tentu saja kebijakannya dipengaruhi pula oleh
situasi politik domestik di negara-negara anggota. Munculnya Islamophobia di
negara-negara anggota, khususnya di swiss yang mana masyarakat muslim disana
banyak diskriminasi yang terjadi.
Diskriminasi
Masyarakat Swiss Terhadap Muslim.
Berada
di urutan kedua setelah agama Kristen, ternyata tidak lantas menjadikan islam
diterima oleh mayoritas masyarakat Swiss. Berbagai isu seputar kampanye anti
Islam di negara Eropa Tengah tersebut akhir-akhir ini memang kerap menghiasi
pemberitaan di sejumlah media-media internasional, terutama yang berasal dari
negara muslim. Salah satunya ialah susahnya umat muslim Swiss untuk membangun
masjid, karena pemerintahan Swiss beralasan menara masjid dianggap bertentangan
dengan symbol ala barat. Tidak hanya itu saja pada 10 Januari 2017 lalu
Otoritas Swiss memenangkan sebuah kasus terkait hak berenang anak perempuan di
European Court of Human Rights (ECHR), Selasa. Pengadilan memutuskan orang tua
Muslim harus mengizinkan anak perempuan mereka mengikuti pelajaran berenang
bercampur dengan laki-laki.
Dalam
kasus ini Pengadilan juga memutuskan orang tua Muslim harus membayar denda jika
melanggarnya. Pengadilan yang berbasis di Strasbourg itu memutuskan denda oleh
otoritas tidak melanggar kebebasan beragama anak perempuan. Kasus ini terjadi
di Basel City pada 2010 kepada orang tua Muslim asal Turki berkewarganegaraan
Swiss. Pengadilan menyebut mereka harus membayar denda sebesar 1.382 dolar AS
karena tidak mengizinkan putri mereka yang berusia tujuh dan sembilan tahun
untuk mengikuti pelajaran berenang. Dalam kasus lain sebuah masjid di Zurich,
Swiss ditembaki oeh orang tak dikenal. Akibat insiden ini tiga orang terluka.
Penembakan terjadi sekitar pukul 17.30 waktu setempat, tiga orang yang terluka
diketahui sedang berada di sebuah jalan kecil dekat komunitas islam tersebut.
Penembakan
ini terjadi beberapa saat setelah Duta Besar Rusia ditembak mati di Turki, juru
bicara kepolisian mekatakan pihak berwenang melakukan pengerjaran terhadap
pelaku. Dalam upaya meningkatkan keamanan setempat telah menutup jalan-jalan
yang sangat strategis salah satunya ialah jalat menuju ke stasiun kereta api
Zurich yang mana sekitar 20 polisi berada di sekitar lokasi penembakan.
Perjuangan
Muslim Swiss Melawan Dikriminasi.
Pada 25 Oktober 2016 seorang muslimah Swiss, Abida (29
tahun), yang dipecat dari pekerjaannya disebkan oleh menggenakan jilbab,
berhasil memenangkan gugatan di pengadilan melawan pihak perusahaan yang
memecatnya. Majelis Hakim Pengadilan Wlayah Mttelland di kota Bern menyatakan,
Abida telah dipecat secara tidak adil dari tempat usaha cuci pakaian oleh
majikannya. Padahal, perempuan tersebut telah bekerja di perusahaan tersebut
selama 6 tahun lamanya. Abida mulai menggunakan jilbab pada januari 2015. Sejak
saat itu, pemilik usaha tersebut meminta muslimah itu agar melepaskan busana
penutup kepala yang ia kenakan. Tidak hanya sampai disitu, sang majikan juga
mengancam bakal memecat abida jika permintaan tersebut tidak dihiraukan. Atas
tindakan pemecsatan yang tidak adil tersebut, pengadilan memutuskan bahwa pihak
perusahaan wajib membayar 3 bulan gaji dan konpensasi senilai 8000 Franc Swiss
(setara RP. 105 juta) kepada Abida.
Tidak hanya itu saja, pada jumat 20 Oktober 2017 parlemen
Swiss menolak mosi yang menuntut para seluruh siswa di negara tersebut wajib
berjabat tangan, apapun agama yang danut para siswa yang mana putusan tersebut
mendapat respon dari sebuah komunitas muslim di Swiss. Dewan Swiss menilai,
upaya mewajibkan jabat tangan siwa dan guru memperlihatkan pihak berwenang di
Swiss telah melampaui kompetisi mereka. Sebelumnya, di kota Therwill, kota
Basel, pada 2016 lalu dua pelajar muslim tidak diwajibkan menjabat tangan guru
perempuan mereka. Kemudia masalah ini diselidiki oleh pihak berwenang setempat
tanpa ada konfirmasi terlebih dahulu kepada Dewan Islam Swiss.
Perjuangan umat muslim Swiss juga pada pembangunan masji yang
mana pada 2007 silam terjadi penolakan terhadap simbol-simbol muslim. Salah
satu Dewan kota Bern menolak rencana untuk membangun salah satu islamic center
terbesar di Eropa. Dan pada tahu 2017 kini Asosiasi Muslim Swiss berencana
membangun mesjid mewah di kanton Fribourg, Swiss. Rencananya bangunan lima
lantai ini akan ada dua ruang shalat utama, sekolah, pusat kebugaran dan kolam
renang. Menurut kabar salah satu surat kabar La Liberte, Asosia Masjid Fribourg
mengumpulkan dana untuk membangun sebuah
masjid dengan ukurannya yang megah. Selain itu, masjid ini juga akan dibuka
untuk berbagai kegiatan umum seperti upacara kelahiran, pernikahan, dan upacara
pemakaman. Di kantor Fribourg ada sekitar 13000 muslim.dengan jumlah muslim
yang semakin bertambah maka kebutuhan akan masjid semakin membesar.
Upaya Uni Eopa Dalam Mengatasi Islamophobia.
Dalam sebuah seminar pertama Uni Eropa yang membahas tentang
islamophobia di Brussels dengan judul “Tolerensi dan rasa hormat, mencegah dan
memberantas islamophobia di Eropa” wakil presiden komisi Eropa, Frans
Timmermans mengatakan islamophobia sebagai tantangan terbesar bagi Uni Eropa
dan ia beranggapan 50% masyarakat Eropa saat ini masih percaya akan sebuah kekerasan
dalam agama. Sebagai anggota komisi Uni Eropa berbagai pihak menyerukan
mengkriminalisasikan bagi orang yang menyebar sebuah pesan kebencian antar umat
beragama, siapapun mereka, hukum harus tetap diterapkan.
Seminar yang diadakan oleh Uni Eropa di Brussels ini
berkesinpulan bahwa seluruh parlemen Uni Eropa sangat menentang keras pihak
yang mengumbar kebencian akan kaum minoritas di kawasan Eropa yang mana sekitar
20% masyarakat di Uni Eropa dari minoritas agama telah mengalami diskriminasi
atau pelecehan atas dasar agama atau keyakinan selama 2016 lalu. Hukum harus
berlaku untuk semua orang dan jika seorang politisi melakukan sesuatu
diskriminasi dan menghasut kebencian melalui apa yang ia katakan.
Kesimpulan.
Swiss dalah
republik federasi yang berada di Eropa Tengah. Swiss sendiri meilki luas
wilayah yang relatif kecil yaitu hanya 421,285 km dan berpenduduk 7,5 juta
jiwa. Swiss sendiri secara geografis dibatasi oleh Jerman, Prancis, Italia,
Austria dan Lienchtenstein. Masuknya islam ke Swiss dimulai saat para pelaut
muslim dari Andalusia (Spanyol) membangun sebuah negeri di Prancis Selatan.
Kemudian para pelaut muslim itu menaklukkan negeri-negeri yang ada di wilayah
tersebut dan bergerak menuju arah utara, sehingga pada tahun 939 M/321 H
sampailah mereka kewilayah St Gallen di Swiss. Hingga saat ini islam berkembang
sangat pesat di Swiss sehingga menjadi agama terbesar kedua setelah kristen.
Menurut hasil sensus pada 2009, umat islam di Swiss mencapai 400 ribu atau 4,26
persen dari total penduduk Swiss. Sementara perempuan di Swiss yang masuk islam
sampai tahun 2009, menurut Monica Nur Sammour-Wust, tokoh muslimah di sana,
jumlahnya sekitar 30 ribu orang.
Dengan
berkembangnya populasi umat islam yang semakin pesat mereka juga mengalami
diskriminasi (islamophobia) yang semakin besar pula. Tercatat banyak kasus
diskriminasi yang terjadi di Swiss mulai dari pelarangan simbol-simbol islam,
penutupan sebuah islamic center di kota Jenewa, pelarangan azan, dll. Namun,
hal itu tidak mematahkan semangat umat muslim Swiss untuk beribadah dan
memperjuangkan hak-hak mereka untuk menjadi seorang muslim. Dengan demikian
mereka dapat hidup damai dan terhindar dari virus-virus islamophobia yang telah
tersebar luas di daratan Eropa.
Daftar Pustaka.
Islamy, A. (2016, Oktober Selasa). Dipecat karena
Berjilbab, Muslimah Swiss Menangkan Gugatan di Pengadilan. Retrieved from
http://www.republika.com
Lc, y. s. (2012, September Senin). Islam di Swiss:
Kehidupan Muslim di Pegunungan Alpen. Retrieved from http://repblika,com
Miga Sari Ganda Kusuma, P. D. (n.d.). PERLINDUNGAN
HUKUM TERHADAP KAUM MINORITAS MUSLIM ATAS PERLAKUAN DISKRIMINATIF DI UNI EROPA.
pp. 1-5.
Nursalikah, A. (2016, Desember Selasa). masjid di
swiss ditembaki, tiga orang tewas. Retrieved from http://www.republika.com
Pelajar muslim di Swiss wajib bersalaman dengan guru. (2016, Mei). Retrieved from
http:www.bbc.indonesia.com
Puspaningtyas, L. (2017, January Selasa). Larang
Anak Ikut Kelas Renang Bercampur, Orang Tua Muslim Swiss Didenda. Retrieved
from http://www.republika.com
Ruslan, H. (2012, September Senin). Islam di Swiss:
Kehidupan Muslim di Pegunungan Alpen. Retrieved from
hhtp://www.republika.com
Sasongko, A. (2017, Oktober Jumat). Parlemen Swiss
tak Paksakan Siswa Berjabat Tangan di Sekolah. Retrieved from
http://www.republika.com
.
Komentar
Posting Komentar