dunia baru pasca perang dunia I dan II
·
Tentang Perang
Dingin
Sisa-sisa
Perang Dunia II memunculkan perang dingin berkepanjangan hampir setengah abad
lamanya yang melibatkan banyak negara di dunia terpisah menjadi dua blok, yakni
Blok Timur dan Blok Barat. Dibubarkannya Pakta Warsawa sebagai pakta pertahanan
utama negara-negara Blok Timur dan diikuti dengan dibubarkannya pula Uni Soviet
sebagai negara yang menjadi basis pertahanan terbesar bagi negara-negara Blok
Timur menandakan akhir perang dingin di mana hampir memunculkan perang nuklir
yang sangat mungkin akan dapat berakibat fatal terhadap kelangsungan hidup
masyarakat dunia.
Perang dingin seakan mewariskan beberapa
masalah internasional yang hingga kini belum juga dapat terselesaikan. Perang
dingin juga memunculkan perang-perang kecil antar etnis, perebutan wilayah, dan
berbagai permasalahan lainnya. Akan tetapi berakhirnya perang dingin juga
membawa keadaan positif yang mana beberapa negara yang dulunya terkekang untuk
berkembang tapi kini mendapat kebebasan dan keleluasaan untuk melakukan
kegiatan politiknya dalam kehidupan negaranya. Berakhirnya perang dingin juga
memunculkan harapan baru, yakni dunia yang damai dan tenteram tanpa merasakan
khawatir tentang bahaya perang.
·
. Akhir Masa
Perang Dingin
Perang
dingin membawa banyak dampak terhadap banyaknya negara-negara di dunia, baik
itu negara yang terlibat langsung mau pun negara yang tidak terlibat langsung
sekalipun. Perang dingin tersebut dinyatakan berakhir setelah pembubaran Uni
Soviet pada akhir tahun 1991. Berakhirnya perang dingin memunculkan harapan baru
bagi masyarakat dunia untuk mencapai perdamaian dunia tanpa mengalami lagi
kekhawatiran atas bahaya perang. Adapun berbagai ketegangan dan konflik yang
menjadi masalah internasional yang sampai hari ini terjadi sering dikaitkan
dengan perang dingin yang pernah terjadi pada masa lalu.
Istilah perang dingin yang pertama kali digunakan oleh George
Orwell dalam artikelnya yang pernah dipublikasikan pada tahun 1945 untuk
menjelaskan prediksinya tentang pergolakan dua atau tiga negara raksasa yang
memiliki senjata nuklir, dan istilah ini menjadi sangat populer setelah
digunakan oleh Bernard Baruch pada tahun 1947 untuk menjelaskan tentang
ketegangan dunia yang terjadi akibat perlombaan senjata antara dua negara
adikuasa saat itu, yakni Amerika Serikat dan Uni Soviet.
Perang
dingin yang berlangsung dari tahun 1947 dan berakhir seiring berakhirnya pula
pemerintahan komunisme di Uni Soviet pada 25 Desember 1991 yang mana pada
beberapa dekade sebelumnya negara-negara soviet mengalami politik ke arah
liberal (lebih dikenal sebagai Glasnost dan Perestroika) yang dilakukan oleh
Mikhail Gorbachev, pemimpin Uni Soviet saat itu.
Pakta
Warsawa merupakan tonggak dasar kekuatan Blok Timur pada masa perang dingin.
Akan tetapi pakta pertahanan ini berakhir pada 31 Maret 1991 dan diakhiri
secara resmi pada 1 Juli 1991 di Praha, akibat ketidakpuasan dari masyarakat
sipil dari negara-negara Blok Timur. Negara-negara yang dahulu berada di bawah
naungan Pakta Warsawa pasca perang dingin mulai menentukan nasibnya
masing-masing. Beberapa di antara mereka berpaling dari negara-negara timur
lainnya dan malah bergabung dengan NATO. Sedangkan beberapa negara khususnya
bekas pecahan Soviet bergabung pada Persemakmuran Negara-negara Merdeka (CIS).
·
Tampilnya
Amerika Serikat sebagai Negara Adikuasa di Dunia
Pasca
perang dingin di mana Uni Soviet yang telah berpuluh-puluh tahun menjadi rival
Amerika Serikat akhirnya runtuh juga. Maka Amerika Serikat sebagai satu-satunya
negara adidaya di dunia yang kuat dari segala hal baik itu militer, ekonomi,
dan politiknya menyebabkan Amerika Serikat selalu berusaha tampil di depan
dalam setiap permasa lahan internasional.
Sejak perang dingin, Amerika Serikat
selalu berusaha turut ikut campur dalam perseteruan negara lain, seperti di
Korea, Vietnam, hingga di Perang Teluk di Timur Tengah yang terus berlanjut
hingga sampai saat ini.
·
Perang Teluk di
Timur Tengah
Bubarnya
Uni Soviet membuat Amerika Serikat makin percaya diri dalam melakukan politik
luar negerinya tanpa perlu terancam oleh lawan tangguhnya. Awal tahun 1991
adalah masa-masa terakhir dari kekuatan Uni Soviet di Blok Timur, yang berarti
akhir dari masa perang dingin di dunia. Pada masa suasana timur tengah sedang
memanas akibat invasi Irak ke Kuwait sejak 2 Agustus 1990 yang dipimpin Saddam
Hussein. Setelah invasi tersebut, Dewan Keamanan PBB memberikan sanksi ekonomi
terhadap Irak. Bersamaan dengan hal tersebut pihak PBB yang dipimpin Amerika
Serikat mendatangkan bantuan pasukan melalui Arab Saudi. Selain itu juga,
George H.W. Bush (Presiden Amerika Serikat saat itu)
mulai mendesak para sekutunya untuk membantu Kuwait. Arab Saudi,
Inggris, dan Mesir yang juga didesak oleh Amerika Serikat pada akhirnya
mengirim pula bantuan serta pasukan dalam jumlah besar. Bahkan dalam perang ini
Arab Saudi sendiri menyumbang dana paling besar yakni $29 miliar dari total
$82miliar.
Konflik
awal dalam mengusir pasukan Irak ialah dengan melakukan pemboman udara pada
tanggal 17 Januari 1991 dan kemudian diikuti oleh serangan darat pada tanggal
23 Februari ditahun yang sama. Kedua langkah tersebut adalah kunci kemenangan
dari pasukan koalisi yang berujung pada gencatan senjata pada tanggal 28
Februari 1991.
Dalam
perang ini tidak ada data resmi berapa jumlah pasukan yang ada di wilayah
perang. Akan tetapi dari beberapa sumber mengatakan bahwa ada lebih dari
700.000 pasukan koalisi dan 540.000 diantaranya adalah pasukan dari Amerika
Serikat. Selain itu, pasukan Amerika Serikat yang gugur sendiri mencapa 100
ribu jiwa. Sedangkan dari pihak Irak hanya 60 ribu jiwa.
Penyebab
dari perang ini sebenarnya berdasarkan dugaan Irak bahwa Kuwait mengontrol
turunnya harga minyak dunia sehingga menyebabkan perekonomian Irak terpuruk.
Tapi tentang Amerika Serikat yang sengaja membantu Kuwait didugaan dengan
alasan ekonomi-politik di mana pihak manapun pun telah menyadari bahwa Irak
adalah salah satu penghasil minyak terbesar di dunia dan Amerika Serikat ingin
menguasainya.
Setelah
perang ini berakhir, banyak sekali dampak serta akibat yang terjadi khususnya
wilayah Timur Tengah. Perang Teluk merupakan sebuah awal di mana Amerika
Serikat dapat menunjukkan taringnya di wilayah Timur Tengah dengan segala
kekuatannya yang dimiliki sebagai negara adidaya di dunia.
·
Kebangkitan
Rusia Pasca Komunisme
Rusia
merupakan negara pewaris utama peninggalan Uni Soviet. Setelah dibubarkannya
Uni Soviet oleh Mikhail Gorbachev pada 25 Desember 1991, Rusia mengalami
kemelut politik yang mendasar terutama tentang nasib bangsa yang besar ini.
Selama pemerintahan Boris Yeltsin, yaitu pemimpin Rusia setelah Mikhail
Gorbachev, hingga 1993 Rusia masih mencari jalan mana yang akan dipilih untuk
dijadikan acuan ke depannya, apakah kembali pada sistem imperium Rusia seperti
masa lalu, atau melaksanakan sistem sosialisme soviet, atau malah menggunakan
demokrasi barat. Demokrasi sebagai landasan dalam perestroika memaksa bangsa
Rusia sendirilah yang patut memilih jalannya. Meski secara de jure partai
komunis pasca Uni Soviet masih eksis, akan tetapi dari hasill pemilihan umum
yang kemudian dilakukan, partai komunis di Rusia selalu kalah baik pada saat
pemilihan yang dimenangkan Boris Yeltsin maupun ketika pemilihan yang
dimenangkan Vladimir Putin sebagai penerus upaya reformasi yang dikedepankan
Boris Yeltsin.
Rusia
yang telah mengalami krisis ekonomi yang parah pada awal pemerintahan Boris
Yeltsin bersamaan dengan diproklamirkannya RSFSR (Republik Sosialis Federasi
Soviet Rusia) sejak 12 Juni 1990 mengakibatkan banyak pengangguran di
mana-mana. Boris Yeltsin berupaya keras untuk melakukan reformasi di dalam
perkembangan Rusia yang di kemudian hari tanpa Uni Soviet. Akan tetapi puncak
reformasi di Rusia mulai terasa ketika Rusia berada di bawah pemerintahan
Vladimir Putin. Selama dua dekade menjabat sebagai presiden, Putin
telah membawa kembali Rusia menuju kebangkitannya.
Rusia yang dahulunya memiliki banyak hutang kini telah terbayar,
bahkan telah memupuk kembali cadangan devisa di negara tersebut.
Tak hanya di bidang ekonomi, di bawah
Vladimir Putin bidang religi di Rusia pun berkembang pesat dan dapat dirasakan
bahwa Rusia di bawah Uni Soviet sangat kering akan nafas religius, tapi
Federasi Rusia kini bahkan membantu meningkatkan ruh-ruh keagamaan di
masyarakat Rusia. Penduduk Rusia yang mayoritas beragama kristen ortodoks dan
Islam kini mulai membangun kembali gereja-gereja dan masjid-masjid mereka yang
telah rusak atau digunakan tidak sesuai fungsinya ketika rezim Uni Soviet
berkuasa. Pada akhirnya mereka dapat kembali melaksanakan kegiatan keagamaannya
tanpa harus sembunyi-sembunyi, bahkan lebih dari itu, mereka juga diperbolehkan
untuk mengadakan tokoh-tokoh beragama untuk serta dalam kegiatan politik.
Atas
reformasi di segala bidang tersebut, Rusia mulai mencoba kembali mengangkat
kejayaan negeri layaknya Uni Soviet dahulu. Penguatan di bidang ekonominya juga
diperkuat dengan militer yang telah banyak dimiliki warisan dari Uni Soviet
terdahulu menjadikan Rusia memiliki potensi yang besar untuk menjadi negara
adidaya menyaingi Amerika Serikat. Dalam bidang politik internasionalnya di sekitar
wilayahnya, Rusia bersama negara-negara pecahan Uni Soviet lainnya bergabung
dalam CIS atau SNG (Sodruzhestvo Nezasimikh Gosudarstv) atau mudahnya yakni
“Persemakmuran Negara-negara Merdeka” yang memungkinkan Rusia mendapat dukungan
kuat dari negara-negara bekas Uni Soviet di sekitarnya dalam melaksanakan
politiknya.
·
Kebangkitan
Asia: Kekuatan-Kekuatan Baru di Dunia
Setelah
beberapa tahun berlalu, perang dingin menyisakan beberapa masalah baru di
dunia, baik itu krisis ekonomi sampai krisis politik. Adapun negara-negara lain
yang tidak terlibat langsung dengan berbagai konflik pada saat perang dingin
memanfaatkan peluang dan potensi yang dimiliki untuk menyusun kekuatan baru
seoptimal mungkin.
Jepang, sejak kekalahannya pada
Perang Dunia II seakan berangkat dari titik nol untuk menjadi negara maju
seperti sedia kala. Pasca pemboman yang dilakukan Amerika Serikat di dua kota
pentingnya, yakni Hiroshima dan Nagasaki, seakan Jepang tak ingin lagi terlibat
konflik militer internasional yang pelik, kecuali tentang keamanan di sekitar
dan perebutan wilayah yang sejak awal memang telah jadi masalah sejak awal.
Jepang berusaha memperbaiki kondisi ekonominya dengan meningkatkan kualitas
pendidikan dan kemajuan teknologi di negerinya. Dengan teknologi
yang berkembang dengan sangat cepat, maka dalam
beberapa puluh tahun saja
Jepang
telah dikenal kembali di mata dunia sebagai negara yang maju bahkan menjadi
negara superior di wilayah Asia.
Lain halnya dengan Jepang, lima puluh tahun pasca perang dengan
saudaranya, yakni Korea Utara di masa perang dingin, Korea Selatan yang
didukung Amerika Serikat mulai bangkit dan selalu membayang-bayangi Jepang
dalam hal kemajuan teknologi dan peningkatan kegiatan ekonominya. Kemajuan
Korea Selatan ini dapat dilihat dari banyaknya cabang perusahaan-perusahaan
Korea Selatan yang didirikan di berbagai negara, mengakibatkan Korea Selatan
dengan mudah mendapat perhatian dunia.
Dua
negara yang telah dijelaskan di atas hanya sebagian saja. Tapi pada
kenyataannya, dengan berakhirnya perang dingin ini, kekuatan-kekuatan baru di
dunia baik dalam bidang ekonomi, politik, bahkan militer mulai berkembang di
negara-negara tertentu, khususnya negara-negara di Asia. Tak hanya Jepang dan
Korea, di negara-negara Asia pun mulai bermunculan negara yang kini telah maju,
seperti Singapura yang sangat maju dan sangat dominan terhadap perekonomian di
Asia Tenggara, Cina dan Taiwan yang sangat kuat sisi perekonomian di negaranya,
India dan Iran yang memiliki teknologi nuklir yang berpotensi meningkatkan laju
perkembangan ekonomi dan militer di negaranya, dan lan sebagainya. Bahkan Cina
kini dianggap sebagai kekuatan terbesar di Asia bahkan dunia, yang mana
memiliki cadangan devisa negara terbanyak di dunia serta memiliki kekuatan
militer yang sangat kuat.
·
Kemajuan Iptek
Dunia: Warisan Perang Dingin
Perang
dingin selain memacu kedua blok memperkaya kekuatan militernya juga memacu Uni
Soviet dan Amerika Serikat untuk berlomba juga dalam mengedepankan teknologi
antariksanya. Dan setelah akhir masa perang dingin, selain kedua negara
tersebut di atas, kemajuan teknologi antariksa juga mulai disusul oleh
negara-negara lainnya di dunia.
Pada akhir masa perang dingin pemimpin Cina telah berusaha untuk
meningkatkan teknologi pesawat antariksa untuk meningkatkan semangat nasional
negaranya. Uni Soviet yang waktu itu menjadi partnernya sejak masa perang
dingin di kemudian hari dilanjutkan dengan Rusia sebagai partnernya. Pada 1996
adalah masa di mana tahap perancangan pesawat tersebut dan astronot Cina sudah
dilatih di Pusat Pelatihan Kosmonot Yuri Gagarin di Rusia. Dan pada 1998
pengembangan peluncur pesawat luar angkasa model baru CZ-2F sebagai pesawat
luar angkasa dan pembangunan Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan telah
diselesaikan. Pada 1999, Cina telah berhasil meluncurkan pesawat
tak berawaknya, dan dilanjutkan dengan misi-misi
selanjutnya pada bulan Maret dan Desember 2002, pada Oktober 2003, dan pada
Oktober 2005.12
Fakta fakta di atas dapat kita pahami bahwa perang dingin sangat
berpengaruh terhadap kemajuan teknologi di dunia dan salah satunya adalah Cina.
Peluncuran pesawat-pesawat antariksa yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan
Uni Soviet membuat sebuah fenomena yang baru di bumi ini, sampai kedua negara
superpower tersebut berlomba-lomba menampilkan keunggulan teknologi
antariksanya. Hal ini tidaklah berlebih-lebihan karena justru banyak membawa
manfaat baik bagi dunia karena bisa mengeksplorasi dunia baru - luar angkasa.
Dalam hal ini Cina yang perekonomiannya sangat stabil kini telah bangkit dan
siap menjadi negara superpower selanjutnya dan disusul pula dengan
negara-negara lainnya.
Perang
dingin merupakan sebutan bagi ketegangan dunia pasca Perang Dunia II yang
diikuti perang-perang regional di tempat tertentu yang mana melibatkan dua
kekuatan besar dunia antara Blok Timur yang didukung Uni Soviet dengan Blok
Barat yang didukung Amerika Serikat. Perang dingin berakhir setelah Uni Soviet
dibubarkan. Berakhirnya perang dingin berarti berakhir pula ketegangan antara
Uni Soviet dengan Amerika Serikat. Dunia baru yang diharapkan untuk dapat hidup
lebih nyaman tanpa ketegangan akibat kekhawatiran akan terjadi perang, ternyata
tidak dinikmati oleh setiap negara. Beberapa negara masih mengalami konflik dan
ketidakpastian dalam menjalankan kehidupan bernegaranya. Bahkan setelah Amerika
Serikat menjadi satu-satunya negara adidaya yang tanpa tandingan, bertindak
semena-mena tanpa mendapat sanksi yang nyata dari PBB yang dikuasai Amerika
Serikat sendiri atas kebijakan politik luar negerinya yang mana beberapa di
antaranya yakni melakukan invasi ke berbagai tempat di dunia demi keuntungan
politik dan ekonominya. Rusia sebagai pewaris utama Uni Soviet berusaha bangkit
dari berbagai macam krisis di negaranya setelah Uni Soviet dibubarkan. Di bawah
pemerintahan Vladimir Putin, Rusia melakukan reformasi di berbagai bidang dan
hingga kini Rusia seakan berusaha terus meraih kembali kekuatan yang dahulu
pernah dimiliki Uni Soviet. Berakhirnya perang dingin juga memberi peluang
besar bagi negara lainnya untuk berkembang dan memajukan negaranya
masing-masing. Negara-negara di Asia mulai berusaha untuk maju dan bersaing
khususnya di bidang teknologi dan ekonominya. Beberapa negara Asia, terutama
Cina mulai menjadi negara super yang mungkin akan menjadi tandingan negara kuat
seperti Amerika Serikat. Pada masa perang dingin di mana kedua negara baik Uni
Soviet maupun Amerika serikat, selain berlomba-lomba dalam meningkatkan
kekuatan militer, ekonomi, dan politiknya, mereka juga berusaha untuk meningkatkan
teknologi di nengaranya. Salah satunya adalah perkembangan teknologi antariksa
dengan cepat pada masa perang dingin membuat teknologi tersebut menjadi sangat
berguna bagi manusia sampai saat ini. Pada akhirnya dapat diketahui bahwa
perang dingin memberikan selain memberikan dampak buruk, ternyata juga memberi
dampak baik terhadap perkembangan dunia.
Komentar
Posting Komentar