Arab Spring; konflik pemerintahan di timur tengah
ARAB
SPRING
Abstrak
Gerakan revolusi yang hadir
selama Arab Spring telah menimbulkan pergolakan politik negara-negara Timur
Tengah. Dimulai dari Tunisia, revolusi tersebar pada negara tetangga yakni
Mesir, Libya, juga Syiria. Hadir ditengah agama dan kultur Islam yang menonjol,
tujuan revolusi adalah untuk menghadirkan demokrasi dalam sistem pemerintahan
negara-negara yang telah lama berada dalam sistem autokrasi, namun selama ini
demokrasi dengan Islam kerap dianggap tidak kompatibel satu sama lain, terutama
di negara-negara dengan nilai-nilai Islam yang mengakar. Artikel ini berfokus
pada penggunaan nilai-nilai Islam dalam gerakan masyarakat sipil global yang
terjadi dalam Arab Spring. Meninjau revolusi secara makro, argumen utama kami
adalah bahwa Arab Spring menjadi sebuah fase yang mengantarkan Islam tingkat
fleksibilitas tertentu terhadap demokrasi dan membawa demokrasi pada dunia
Arab. Makalah ini menghasilkan simpulan bahwa pemicu revolusi bukan karena
urusan keagamaan, demonstran yang bergabung tidaklah seratus persen kaum
muslim, dan isu yang dituntut tidak berkaitan dengan kehidupan beragama
masyarakat, namun Islam baik nilai atau praktik ibadahnya, tidak dapat
dipisahkan dalam pengorganisasian massa selama revolusi terjadi.
Kata Kunci: Arab Spring,
Revolusi, Demokrasi
Pendahuluan.
Arab Spring adalah istilah untuk kebangkitan
dunia Arab atau pemberontakan yang dimulai di Tunisia pada musim semi Desember
2010. Arab Spring menjalar ke Libya, Aljazair, Mesir, Lebanon, Yordania,
Mauritania, Sudan, Oman, Arab Saudi, Maroko, Yaman, Irak, Bahrain, Kuwait,
Sahara Barat, dan Suriah dengan berbagai tingkat tekanan untuk menggulingkan
pemerintah. Beberapa pemimpinnya digulingkan dengan cara kudeta berdarah, yang
lain sedang berlangsung dan beberapa sudah berhenti. Kegagalan Arab Spring ditunjukkan
dengan harapan rakyat Timur Tengah yang tidak terwujud. Keinginan lepas dari
kediktatoran rezim (dictatorship regime) yang zalim
justru menghadirkan rezim diktator baru sebagaimana yang terjadi di Mesir.
Harapan kehidupan islami dapat terwujud justru malah mengokohkan rezim sekular
sebagaimana yang terjadi di Tunisia. Belum lagi konflik yang berkepanjangan di
Libya, pembantaian rakyat yang menjadi tontonan dunia internasional sebagaimana
yang terjadi di Suriah, ancaman disintegrasi di Irak sampai pertarungan adidaya
dunia sebagaimana yang terjadi di Yaman. Itulah buah dari Arab Spring.
Globalisasi di timur Tengah
Globalisasi ditandai dengan hubungan antar negara atau antar
kawasan yang mengalami akselerasi sedemikian cepat sehingga muncul kesadaran
lintas batas negara integrasi dan saling ketergantungan. Globalisasi juga
identik dengan liberalisasi perdagangan dan ketertarikan negara-negara Timur
Tengah untuk masuk dalam rezim perdagangan bebas cukup tinggi. Arab Saudi
sebagai aktor utama di kawasan ini misalnya memiliki minat yang tinggi untuk
masuk ke WTO sejak tahun 1996, dan diluluskan keanggotaanya tahun 2008. Keanggotaan
Arab Saudi dalam WTO dinilai lambat bila dibandingkan dengan negara-negara Arab
lainnya seperti UEA, Qatar, Bahrain dan Oman karena peraturan-peraturan dagang
domestik Arab Saudi perlu banyak perubahan sehingga compatible dengan
aturan dagang WTO. Kecenderungan negara-negara Arab untuk lebih dalam masuk ke
perdagangan internasional juga terlihat dari berkembangnya pusat-pusat jasa
keuangan. UEA mengembangkan Abu Dhabi sebagai sentral perdagangan dan jasa
keuangan di Timur Tengah menyaingi Hongkong dan Singapura. Kesadaran bahwa
sumber daya alam minyak suatu saat akan habis, mendorong elit politik di negara
tersebut mencari alternatif lain untuk menggerakkan ekonomi mereka saat
komoditi minyak sudah tidak bisa diandalkan.
Dengan memanfaatkan kekayaan
minyak yang saat ini masih dimiliki serta keuntungan geografis sebagai kawasan
tempat pertemuan antara Timur dan Barat, Abu Dhabi berkembang menjadi kota
pelabuhan dan galangan kapal bagi kapal-kapal besar yang melewati Teluk Persia.
Bahkan Bandar Udara Abu Dhabi berkembang menjadi bandara transit yang
menghubungkan Asia, Eropa, Afrika, dan Amerika. Keuntungan ekonomi dari minyak
diinvestasikan untuk membangun gedung-gedung pencakar langit sebagai
pusat-pusat bisnis. Negara Teluk lainnya Arab Saudi pun tidak mau ketinggalan
mengembangkan Jeddah sebagai pusat bisnis. Seolah bersaing dengan Abu Dhabi,
Arab Saudi juga berencana membangun gedung-gedung tinggi mengalahkan
popularitas Burj Al-Khalifa.
Arab Spring memberikan kesempatan kepada political
community semacam ini untuk berpartisipasi dalam perubahan politik di
negara masing-masing. Partai An-Nahdha pimpinan Rachid Ghannouchi yang memiliki
kedekatan dengan pemikiran Al-Ikhwan terlibat aktif dalam gerakan revolusi ini.
Ghannouchi sendiri selama bertahun-tahun terusir dari negaranya (tinggal di
Perancis) karena sikap kritis terhadap rezim Bin Ali. Ketika Presiden Bin Ali
berhasil digulingkan Ghannouchi kembali ke negaranya, ikut serta dalam pemilu
dan akhirnya An-Nahdha memenangkan pemilu. Kemudian di Maroko setelah Raja
Muhammad IV melakukan reformasi politik agar gelombang Arab Spring tidak
mengancam kekuasaannya dengan melakukan pemilu multi partai, Partai Keadilan
dan Pembangunan yang juga memiliki kedekatan dengan pemikiran Ikhwanul Muslimin
memenangkan pertarungan dalam pemilu yang digelar pada 27 November 2011
Konflik di negara-negara Arab
1.
Diktator Baru di Mesir.
2.
Penguasa Sekular Kembali di Tunisia.
Bermula
dari Provinsi Sidi Bouzid di Tunisia, ketika para demonstran menuntut turun rezim
Zine al-Abidine Ben Ali atas buruknya situasi ekonomi, korupsi, dan tingginya
tingkat pengangguran di Tunisia. Aksi mereka dipicu oleh percobaan bunuh diri
seorang pedagang asongan bernama Mohamed Bouazizi. Bouazizi membakar diri setelah
polisi menyita dagangan berupa buah dan sayur yang merupakan satusatunya sumber
penghasilan. Bouazizi meninggal di rumah sakit pada 4 Januari 2011 akibat luka bakar
dari aksinya. Dengan segera, Bouazizi menjadi simbol perlawanan rakyat atas
rezim Ben Ali. Tidak kuat menghadapi demonstrasi dan kerusuhan kerusuhan yang
terus terjadi, Ben Ali akhirnya melarikan diri ke Jeddah, Arab Saudi. Larinya
Ben Ali menandai berakhirnya rezim yang ia bangun sejak 24 tahun sebelumnya. Gerakan
oposisi akhirnya bisa membanguntransisi di Tunisia.
a)
Kesenjangan
Ekonomi
Pada 16 Juni 2000 Jean Shaoul dan Chris Marsden menyebutkan
perekonomian Suriah dalam masa kesulitan diantaranya, produksi minyak turun
menjadi 400,000 barel per hari, Suriah kesulitan menjalankan pelayanan publik
karena mengalami krisis, angka kelahiran tinggi dan pendapatan perkapita
menurun.23 Suriah dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan dalam bidang
ekonomi. Ditambah dengan utang luar negeri yang terus membengkak.
b)
Kebijakan
Militer
Semasa masih berkuasa, Hafez Al-Assad merupakan tokoh yang pantas
diperhitungkan dalam percaturan politik di Timur Tengah.25 Hafez Al-Assad
sangat menentang hegemoni Amerika dan Eropa serta pendudukan Israel. Hafez
Al-Assad selalu berjuang baik dalam medan pertempuran maupun di meja
perundingan untuk memulihkan hak-hak bangsa Arab, menghadapi agresi dan
pendudukan Israel, konspirasi serta propaganda yang dilakukan zionis.
c)
Sunni-Syiah
Konflik Sunni-Syiah yang berkepanjangan turut mewarnai politik
kawasan Timur Tengah. Konflik Suriah tidak terlepas dari campur tangan di balik
layar antara Amerika Serikat dan sekutunya yang mayoritas negara Sunni seperti
Arab Saudi, Turki, Qatar melawan Rusia yang didukung China dan Iran. Kedua pihak
(Amerika dan Rusia) gencar mengirimkan bantuan berupa uang, alat persenjataan,
pelatihan militer.
Houthi
merupakan organisasi yang di gerakkan oleh kelompok Zaidi, sebuah cabang dari
Syiah yang mempunyai penganut cukup banyak di Yaman. Jumlah penganut Zaidi
mencapai 45% dari total populasi di negara tersebut, sedangkan yang terafiliasi
dalam gerakan Houthi berkisar sekitar 30% dari total populasi. Sejah mencatat,
Zaidi memerintah negeri Yaman (Utara) selama 1.000 tahun lebih sampai tahun
1962. Selama periode tersebut, mereka mempertahankan kemerdekaan dengan tangguh
dan banyak terlibat dalam pertempuran melawan kekuatan-kekuatan asing yang pada
saat itu mengendalikan wilayah Yaman bagian selatan. Naiknya Houthi telah
merubah konfigurasi politik di internal negara Yaman dimana kelompok Syiah
mendapatkan momentum untuk mengakses kuasa. Houthi—yang mempunyai kedekatan
ideologis dan diduga berafiliasi dengan Iran, akan mengurangi radius pengaruh
Arab Saudi di satu sisi, dan memperluas daerah pengaruh Iran di sisi lain.
Meski merupakan negara miskin, namun Yaman merupakan negara yang mempunyai
kepadatan cukup tinggi dengan populasi lebih dari 25 juta penduduk. Jika
dibiarkan, perubahan konfigurasi politik Yaman ini berpotensi menggeser peta
rivalitas pengaruh Saudi dan Iran di kawasan. Mempertimbangkan hal tersebut,
maka reaksi keras Saudi terhadap pergolakan di Yaman bisa di pahami.
Ketika
gerakan masyarakat sipil global di Timur Tengah menuntut hadirnya demokrasi
dengan berbagai pertaruhan, Sistem demokrasi di Barat dikarakteristikkan dengan
adanya: pemisahan kekuasaan, pemilu yang bebas, kebebasan warga sipil, hukum,
serta penghargaan atas hak asasi manusia seperti kepemilikan pribadi, kebebasan
berpendapat, serta toleransi beragama. Prinsip ini merupakan nilai yang
sepenuhnya baru bagi negara-negara Timur Tengah. Negara-negara Arab sedang
dalam proses menuju pemenuhan prinsip-prinsip demokrasi dalam sistem
pemerintahannya. Tentunya jalan untuk menghadirkan demokrasi di kawasan
tersebut tidaklah mudah.
Dalam revolusi ini, yang sangat di
sayangkan ialah banyaknya warga sipil yang tidak bersalah menjadi korban. Salah
satu contohnya ialah para warga sipil yang berada di Suriah yang mana hingga
saat ini di negara tersebut masih berada dalam konflik yang besar dan
berkepanjangan. Syrian Center for Policy Research merilis
data terbaru korban perang Suriah selama lima tahun telah merenggut 470 ribu
nyawa. Angka ini meningkat hampir dua kali lipat dari perkiraan sebelumnya. The
Guardian melaporkan ekspektasi hidup di Suriah turun menjadi 55, 4 tahun.
Sebelum konflik hidup warga Suriah rata-rata diperkirakan bisa mencapai 70
tahun. Konflik Suriah mengakibatkan kota-kota bersejarah menjadi hancur. Aleppo
yang merupakan salah satu kota bersejarah terbesar Suriah telah hancur,
kompleks Masjid Umayyah yang kuno dan sangat terkenal telah dihancurkan. Hampir
semua tempat Warisan Dunia Suriah versi Badan Pelestarian Budaya PBB (UNESCO)
telah rusak. Termasuk di kota sebelah utara Aleppo, kota kuno Bosra di selatan,
salah satu istana abad pertengahan yang paling penting dilestarikan di dunia Crac
des Chevaliers serta situs arkeologi Palmy
Dampak yang terjadi pasca revolusi
di negara-negara di Timur Tengah ini tidak hanya ditentukan oleh tren-tren
global saja, tetapi justru akan menentukan apakah bagian dunia lainakan menjadi
lebih baik ataupun lebih buruk. Setiap scenario potensial Timur Tengah memiliki
implikasi besar bagi dunia. Misalnya, pecah konflik regional besar ang tiak
dapat dicegah, maka akan berdampak buruk pula terhadap perekonomian global.
Demikian juga persaingan antara Arab Saudi dan Iran yang memperebutkan pengaruh
hegemoni di timur Tengah, misalnya di Suriah dan yaman akan juga mempengaruhi
perdamaian dan kemakmuran dikawasan. Pendek kata, dunia yang lebih makmur dan
damai adalah tidak mungkin tanpa adanya timur tengah yang stabil dan aman.
Kesimpulan.
Revolusi Arab Spring dalam hal dapat membuahkan 3
hal. Pertama, mayoritas negara-negara di kawasan itu (Timur Tengah dan Afrika
Utara), banyak merubah sistem negaranya. Mulai Saudi Arabia hingga Yordania
menyesuaikan strategi mereka agar bias tetap bertahan, berkuasa dan menghadapi
para penentang. Kedua hasil dari Arab Spring menunjukkan sebuah kontes yang
relatif yang berimbang antara massa rakyat yang menuntut perubahan dan rezim
yang berkuasa. Tetapi hal itu menyebabkan pecahnya perang saudara. Libya,
yaman, dan Suriah dapat dimasukkan kedalam kategori ini. Ketiga, adanya
negara-negara yang dapat dikatakan mengalami transisi yang relataif mulus
setelah pergantian rezim. Misalnya, Tunisia dan Mesir (meskin Mesir tidak
begitu aman bila dibandingkan dengan Tunisia, Mesir lebih banyak mengalami
kekerasan dibandingakan Tunisia). Transisi di Mesir berakhir dengan kudeta
militer yang mana hal ini mengakibatkan militer di Mesir kembali berkuasa dan
kembali ke masa sebelum revolusi. Libya, Yaman, dan Suriah mengalami kolabs
politi yang hamper sama, polirisasi, dan perang saudara. Suriah menjadi sumber
krisis baru di Timur Tengah pasca Arab Spring. Hampir tiap rezim lebih tidak
toleran dan lebih reprensif.
Tetapi
Arab Spring tetap hanya bagian dari cerita atau apa yang akan menentukan masa
depan Timur Tengah. Ada beberapa kecenderungan lain yaitu perubahan peta
energy, usaha menekan perkembang-biakan senjata pemusnah masal, krisis ekonomi,
radikalisme dan terorisme, dan persaingan diantara pemain global dan regional.
Timur Tenagah tidak hanya ditentukan oleh tren-tren global, tetapi justru akan
menentukan apakah bagian dunia lain akan menjadi lebih baik atau lebih buruk.
Setiap skenario potensial Timur Tengah memiliki implikasi besar bagi dunia.
Misalnya pecah konflik regional besar yang tidak dicegah, maka akan berdampak
buruk terhadap perekonomian global.
Daftar Isi
agustinova, d. e. (2013). latar belakang dan masa
depan Libya pasca Arab Spring. jurnal ilmu soisial SOCI, 120-128.
fanani, a. (2016). rivalitas Arab Saudi-Iran di
Yaman era Arab Spring.
hermawan, s. (2016). konflik suriah pada masa bashar
al-assad tahun 2011-2015. juranal universitas negeri yogyakarta.
kuncahyono, t. (2016). Arab Spring dan masa depan
Timur Tengah. journal AIPI, 3-26.
muttaqien, m. (2006). Arab Spring: dimensi domestik,
regional, dan global. depertemen Hubungan Internasional FISIP Universitas
Airlangga, 262-276.
Rachmania, R. (2015, juli ). konflik Suriah pada
saat Arab Spring 2010. pp. 18-90.
umar, a. r. (2014). media sosial dan revolusi
politik: memahami kembali fenomena "Arab Spring" dalam perspektif
ruang publik transnasional. jurnal ilmu sosial dan politik, 115-129.
yasmine, s. e. (2015). Arab Spring: islam dalam
gerakan sosial dan demokrasi Timur Tengah. jurnal hubungan internasional
universitas airlangga, 106-133.
Komentar
Posting Komentar