Makna Generalisasi.
Makna
Generalisasi.
Generalisasi
adalah pernyataan tentang hubungan antara dua konsep atau lebih. Pernyataan ini
bisa bermacam-macam, mulai dari yang sangat sederhana sampai yang sangat rumit.pernyataan
ini juga bias mempunyai tingkat universalitas penerapan, mulai dari tingkat
yang sangat tinggi (yang bias diterapkan dimana saja) sampai tingkat yang
rendah (yang penerapannya terbatas oleh waktu dan ruang). Sedangkan menurut Tarigan Generalisasi
atau perluasan adalah suatu proses perubahan makna kata dari yang lebih khusus
ke yang lebih umum. Dalam
kehidupan sehari-hari perubahan makna dapat membawa perbedaan penilaian makna
makna. Generalisasi atau perluasan merupakan kebutuhan akan konsep baru seperti
diketahui tidak selamanya harus dijawab dengan penciptaan kata baru, tetapi
yang justru lebih sering ditempuh oleh pemakai bahasa adalah dengan memperluas
komponen makna kata-kata yang sudah ada Sebagai
contoh, perhatikan dua konsep kemakmuran dan legitimasi. Dalam kedua konsep ini
bisa
menghasilkan sebuah hubungan yang bisa menciptakanpernyataan sederhana; “ketika ekonomi makmur, legitimasi
pemerintah meningkat.” Pernyataan yang bisa komplek bisa menghubungkan
kemakmuran legitimasi dengan stabilitas politik. Dalam hal ini, kita bisa
membuat generalisasi: ”kombinasi antara kemakmuran dan legitimasi menghasilkan
stabilitas politik.
Struktur
pokok generalisasi adalah bahwa generalisasi pasti menyatakan suatu hubungan
antara dua konsep atau lebih. Dengan pernyataan ini kita bias
memahami fenomena politik dengan dengan baik karena telah menemukan suatu pola.
Tidak hanya tau yamg mana Negara yang menggunakan sistem demokratis dan yang
mana tidak, tetapi juga tau bahwa Negara yang demokratis ternyata juga didiami
oleh warga yang berpendidikan lebih tinggi dan hidup lebih makmur dibandingkan
dengan Negara yang otoriter itu. Dan sebenarnya pada tingkat inilah kegiatan
keilmuan dimulai, yaitu konsep-konsep saling berhubungan, hubungan antar konsep
itu diuji dan didukung atau ditolak.
Seperti yang dikatakan oleh Alan Isaak,
generalisasi itu sangat penting bagi ilmu Hubungan Internasional karena dua
hal, pertama, generalisasi itu memberikan deskripsi yang lebih canggih
dan luas tentang suatu fenomena. Pernyataan yang bias menunjukkan bahwa “Negara
A memiliki ketahanan ekonomi lebih besar dibanding dengan
negara B” memang berguna. Tetapi penyataan ini kurang banyak manfaatnya
dibandingkan dengan pernyataan yang bisa menunjukkan bahwa “dalam setiap
situasi resesi, negara dengan ekonomi yang didasark
There are no sources in the
current document.
dengan industri teknologi tinggi mempunyai ketahanan
ekonomi lebih besar dari pada ekonomi yang didasarkan pada industri
ekstraktif.” Kemampuan menghubungakan konsep ketahanan ekonomi dengan konsep
industrialisasi, membuat pernyataan kedua itu lebih bermakna dan lebih banyak
memberikan pengetahuan, sedangkan pernyataan yang pertama tadi hanyalah
memberikan fakta, seperti halnya banyak karya jurnalistik dan studi kasus yang
penuh detail. Kedua, generalisasi itu penting bahwa dengan generalisasilah
yang melandasi kegiatan menjelaskan dan meramalkan suatu fenomena. Tanpa
generalisasi, tidak mungkin menjelaskan dan apabila mungkin, meramalkannya.
Sifat Generalisasi.
Menurut Isaak, ada dua sifat generalisassi yaitu: 1. Kondisionalitas.
Suatu generalisasi saintifik adalah pernyataan tentang hubungan empiris antara
konsep-konsep dalam bentuk kondisisonal. Untuk memahami pengertian ini, kiata
bisa melihat contoh berikut: misalnya , M dan D adalah konsep yang mewakili
“makmur” dan “demokratik” dan X adalah negara. Dari sini bisa dibuat
generalisasi: “untuk setiap X, jika X=M, maka X=D.” Dengan kata lain, setiap
negara yang memiliki atribut “makmur” juga memiliki sifat “demokratis”. Generalisasi
ini bisa juga dinyatakan sebagai jika X=M, maka 75% kemungkinan X=D,
artinya 75 persen negara makmur menjadi
demokratis jadi setiap negara makmur adalah demokratis . Pernyataan terakhir
ini juga bisa diubah kebentuk jika , maka ‘ Setiap negara makmur adalah
Demokratis ‘ adalah sama saja mengatakan ‘ Jika adalah suatu negara makmur ,
maka dapat dikatakan Demokratis
Sifat Empiris, Semua Generalisasi bisa diubah menjadi bentuk – Kondisional , Namun tidak
semua bentuk Kondisional adalah
Generalisasi (Valid). Sesuai dengan sifat Sains ,Generalisasi Saintifik Harus
bersifat Empiris Sebisa mungkin dapat
didasarkan berdasarkan pengalaman dan Pengamatan. Generalisasi pada dasarnya
adalah hubungan antar konsep – konsep Empiris , maka Baik buruk nya konsep
Generalisasi juga tergantung kepada baik – buruk nya konsep yang dimuat.
Generalisasi yang tidak Empiris adalah Generalisasi yang berisi konsep yang
tidak memenuhi kriteria Emperical Refrency. Selain itu Generalisasi harus
disusun dalam tata bahasa yang benar dan secara keseluruhan masuk akal . Dan
pada akhir nya yang dimaksud Generalisasi yang secara Empiris baik adalah Suatu
Generalisasi yang bisa diuji , yaitu bisa didukung / ditolak Contoh berikut ini
bisa memberikan penjelasan bagi kita . Perhatikan Generalisasi Selatan Adalah
miskin yang dapay diubah dalam bentuk Jika
selatan , maka miskin. setiap kata / konsep dalam Generalisasi itu bermakna
kata Adalah cukup jelas ,selatan dan
miskin/ punya bisa diberi rujukan empiris .
Bibliography
agustin, A. t. (2013, oktober). analisa perubahan
makna kata generalisasi pada rubik pendidikan surat kabar, jurnal, dan
implikasinya terhadap pembelajaran bahasa indonesia. Retrieved from
www.ejournal.unpak.ac.id
saputri, d. (2015). kajian generalisasi distribusi
binomial yang bertipe COM-position dan sifat-sifatnya. jurnal sains dan seni
ITS, 67-70.
Komentar
Posting Komentar