Pokok pemikiran politik Al-mawardi
Pokok
pemikiran politik Al-mawardi
Biografi dan karya-karya Al-mawardi
Nama
lengkap beliau adalah Abu hasan Ali bin Habib al-mawardi Al-basri. Yang mana
beliau lahir pada tahun 364H/975M dan wafat pada tahun 450H/1059M. beliau
dikenal sebagai ulama dan cendikiawan politik yang popular dan sebagai tokoh
mazhab shafii serta memilki pengaruh besar di pemerintahan daulah Abbasiyah.
Walaupun pernah hidup berpindah-pindah, tetapi beliau menetap di Bagdad dan
menempati posisi penting di pemerintahan khalifah Al-qadir.
Al-mawardi adalah ulama dan penulis
yang produktif. Tulisan-tulisannya mengulas berbagai disiplin ilmu. Ada
beberapa karya Al-mawardi yang popular yaitu kitab Adab al-dunya wa al-din (etika
dunia dan agama), al-ahkam al-sutaniyah
wa al-walayah al- diniyah (teori-teori pemerintahan dan otoritas agama), qawanin al-wazarat, siasah al-malik
(perundang-undangan kementrian politik dan penguasa).
Pandangan politik Al-mawardi
Menurut
al-Mawardi, berdirinya Negara itu membutuhkan adanya enam pilar sebagai
berikut.
Pertama,
agama sebagai inspirasi. Agama dibutuhkansebagai pengontrol hawa nafsu dan
sebagai pembimbing hati nurani serta sebagai pondasi kokoh untuk menciptakan
Negara yang makmur.
Kedua,
penguasa yang punya otoritas yang melekat dalam dirinya dengan
kekuasaannya, maka penguasa dapat mengkompromikan beberapa aspirasi yang
berbeda, dapat membangun Negara mencapai tujuan dan pengalaman agama,
mewujudkan kesejahteraan, kehidupan dan martabat warga Negara dan martabat
warga Negara. Penguasa itu dapat disebut al-Iman,
atau khalifah.
Ketiga,
keadilan yang menyeluruh. Keadilan akan menciptakan kedamaian dan kerukunan
warga Negara, respek dan loyalitas mereka kepada pemimpin kehidupan yang cerah,
serta meningkatkan gairah mereka untuk berprestasi. Keadilan itu bermula dari
sikap fair terhadap diri sendiri kemudian kepada orang lain.
Keempat,
keamanan semesta. Keamanan akan memberi inner
peace (kedamaian batin) kepada rakyat dan pada akhirnya mendorong rakyat
berinisiatif dan berkreatif dalam membangun Negara.
Kelima,
kesuburan tanah air. Kesuburan tanah air akan menguatkan inisiatif rakyat
untuk menyediakan kebutuhan pangan dan kebutuhan ekonomis lainnya sehingga
konflik antar penduduk dapat dikurangi.
Keenam,
harapan bertahan dan mengembangkan kehidupan. Kehidupan manusia melahirkan
generasi-generasi. Generasi sekarang pemberi warisan bagi generasi masa depan.
Situasi politik dinasti Abbasiyah
pada saat Al-mawardi hidup dilanda situasi politik yang buruk bahkan mengarah
pda situasi yang kacau. Pendekatan yang dipakai Al-mawardi dalam menulis kitab
politiknya(al-ahkam al-sultaniyah wa
al-walayah al-diniyah) itu brbeda yang digunakan oleh Almawardi dalam
menulis Ara Ahl al-madinah al-fadilah.
Teori politik Al-mawardi berpijak
pada hal-hal yang factual dan real serta sangat realistic. Memotivasi
untukmencapai improvement dan reformatif bahkan cenderung membela status quo
kepemimpinan arab (suku quraysh). Imam, menurut Al-mawardi diistilahkan oleh
khalifah, raja, sultan atau kepala Negara. Al-mawardi menyandangkan fungsi
religius kepda kepala Negara, disamping sebagai kepala Negara juga sebagai penjaga
agama dan juga pengolah siasat Negara. Didalam buku itu juga mengatakan “Jika di antara kedua pemimpin ada yang lebih
pandai dan yang lebih berani, maka yang lebih berani didahulukan ketika negara
sedang banyak mendapat gangguan dari pemberontak. Namun jika negara diliputi
oleh orang-orang ahli bid’ah, maka yang pandai yang lebih didahulukan.”Dari
pernyataan ini, dapat diambil kesimpulan bahwa sesungguhnya kebutuhan kita
terhadap karakter pemimpin itu disesuaikan dengan kondisinya.
Daftar Pustaka
Ahmad, S. (2013, april). Retrieved from
http://Hidayatullah.com
shalahuddin, M. (2015, juni). Retrieved from
http:wwwjurnalpolitik.uinsby.ac.id
Komentar
Posting Komentar